Tg; 19 famplet ini berteberan di facebook. Kami kira kami tidak akan nabeuh pada acara ini karena konfirmasi panitia yang sangat mininm, akhirnya pada tgl 19 des tanpa sepengetahuan kami famplet ini bertebaran di sekitar beranda facebook saya. Dan mari kita CEUCEUYAHAN CS'ku.
( aa panitia ke mh konfirmasi helanya. hhe ^^d )
Minggu, 19 Desember 2010
Jumat, 17 Desember 2010
IBING KEURSEUS, TARIAN DARI RANCAEKEK
17 desember 2010//pembelajaran//ibing keurseus
Seminar yang di lakukan FAT membuat kami merubah jalan pikiran yang sangat pesat. kebetulan kami adalah pembuka dari seminar tersebut dan domisili kami yang memang berada pada daerah kabupaten Bandung tetapnya di Rancaekek. Pada saat seminar berlangsung pembicara mengungkapkan bahwa Rancaekek mempunyai kesenian tersendiri yaitu IBING KEURSEUS yang dahulunya adalah ibing tayub. Ibing keurseus atau dari bahasa belanda cursus (kursus) dipelopori oleh Raden Sambas Wirakusumah yang pada saat itu menjabat sebagai lurah Rancaekek. Ibing ini sangat berkembang pesat pada tahun 20an karenakan ibing ini di ajarkan atau Cursukan di sekolah-sekolah menak ( sekolah kaum priyai) karena seorang pejabat dituntut untuk bisa menari. Ibing atau tarian ini kini menjadi bagian yang hilang dari kebudayaan jawa barat khususnya Rancaekek yang dahulunya terkenal sebagai pelopor ibing keurseus. Kebanyakan warga rancaekek sendiri tidak mengetahui apa itu ibing keureseus, Agung (personil Babaung Maung) mencoba mencari sejauh mana orang rancaekek mengetauhinya dengan cara bertanya dan hampir semua orang menjawab “TIDAK TAHU” sebagian lagi menjawab “PERNAH DENGAR TAPI TIDAK TAHU”. Apakah memang modern dance sudah mengalahkan tarian ini? Atau alat elektronik yang seharusnya menjadi alat untuk mempopulerkan kembali telah lupa? Atau terlalu banyak memikirkan komersialisasi? Tarian yang dahulunya wajib bagi para pejabat kini sudah tidak berlaku lagi. Tarian yang merupakan aset dari kebudayaan rancaekek kini hampir tidak di dengar lagi di daerahnya. Tarian ini kini hanya di tampilkan di acara-acara khusus dan hanya beberapa kali di tampilkan dan sekarang sudah jarang lagi terdengar tarian ini di tampilkan. Kami sebagai orang yang mencintai kebudayaan dan selaku warga rancaekek ingin memberitahukan kepada anda bahwa kami punya budaya yang harus di jaga bersama.
Mencoba menelusuri ibing keurseus
Ibing keurseus atau dari bahasa belanda cursus dan dari bahasa indonesia yaitu kursus dipelopori oleh Raden Sambas Wirakusumah yang pada saat itu menjabat sebagai lurah Rancaekek. Dahulu ibing keurseus bernama ibing tayub, dikarenkan ibing ini berkembang pesat dengan pengajaran yang sangat teratur akhirnya ibing ini di juluki tarian cursus/kursus atau ibing keurseus. Tarian yang yang tertib ini adalah tarian perlalihan dari tarian pergaulan atau tarian keseharian menjadi tarian pertunjukan dikarenakan tarian ini cukup indah ditonton untuk umum.
Tarian keuresus ini merupakan suatu rumpun tersendiri dalam lingkungan Khasanah Tari Sunda. Golongan pada Tarian keuresus yang mungkin juga dapat disebut karakterisasi atau perwatakan, dapatlah dikemukakan sebagai berikut:
1. Lenyepan bersifat lungguh, halus serta berirama lambat
2. Nyatria bersifat lanyap, halus tapi berirama agak cepat
3. Monggawa bersifat gagah, kuat dan berirama sedang
Bila diperhatikan nama perwatakan itu maka nampak adanya penyesuaian dengan perwatakan yang ada pada Pewayangan dan rumpun Tari Topeng yang akan dikemukakan pada pasal berikutnya.
Di samping gerakan-gerakannya telah diatur sedemikian rupa, akhirnya gending-gendingnya juga menjadi tertentu, misalnya untuk :
1. Tari Leyepan menggunakan gending Sulanjana, Udanmas, Banjarsinom dan sebagainya.
2. Tari Nyatria menggunakan gending Gawil dan Kakacangan
3. Tari Monggawa menggunakan gending Panglima, Bendrong dan sebagainya.
4. Tari Ngalana menggunakan gending-gending yang sama dengan Tari Monggawa hanyalah iramanya cepat disebut irama Kering Tilu.
Pada Tarian Keurseus ini peran penabuh Kendang menjadi sangat penting, karena setiap Paguron mempunyai susunan-susunan tarian yang tertentu yang iramanya sangat ditentukan oleh irama kendang. Sebetulnya hal ini tak begitu berarti kemajuan karena setiap penari jadi sangat tergantung pada penggendangnya sendiri.
Sebelum lalamba dilakukan biasanya setiap penari memberi hormat dengan sembah sambil duduk bersila mando. Tentu hal ini dilakukannya dengan gerakan tari.
Bagian berikutnya setelah lalamba adalah disebut Leyepan, yang gerakan-gerakannya cukup beragam dan makin jauh makin sulit serta kemudian dapat pula ditingkatkan lagi pada tari Nyatria Monggawa dan Ngalana. Untuk jelasnya, beberapa nama gerakan pada tari Leyepan: Jangkung Ilo, Gedig, Mincid, Tindak Tilu, Engkeg gigir... dan sebagainya.
Pada gending yang sama Leyepan ini diteruskan dengan Nyatria yang terdiri dari bagian seperti: Sekar tiba, Nyantana, Mincid Galayar. Menyusul setelahnya Tari Monggawa dengan gending dirubah, lajim disebut ditaekkeun yang berarti ditingkatkan dengan gending lancaran seperti Bendrong atau Palima dan sebangsanya yang juga biasa disebut lagu satu wilet/sawilet.
Gending-gending pengiring tari tayuban dan juga keurseus antara lain: Gawil, kawitan, Gunung Sari, Kastawa, Gorompol dan lainsebagainya
Boleh kiranya disimpulkan bahwa Tarian keurseus adalah tarian untuk setiap orang yang sampai sekarang baru terbatas untuk kaum laki-laki, meskipun tidak menutup kemungkinan ditarikan oleh wanita maupun seorang waria.
Adapun pakaian yang dikenakan biasanya ialah tutup kepala bernama Bendo, Jas Tutup atau Jas buka dan Kain batik, Keris dipakainya tersandar, di belakang untuk menyalipkan soder paling banyak digunakan di antaranya pada gerakan sepak soder.
Adapaun itu adalah sebagian dari penjelasan mengenai tarian keurseus, mohon maaf apabila ada kesalahan kami baru akan memulai kembali dan akan melstarikannya. Mohon batuan dari semua orang yang masih peduli akan kebudayaan kita. SUNDA AING SUNDA SALAREA
Backsound : tarawangsa, karinding attack, karinding militan, babaung maung ‘karinding’, keroncong, tragedy of harmony, jasad
Books : -
Movie : resident evil
Quote :hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.
Books : -
Movie : resident evil
Quote :hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.
blog ini bersumber dari :
Senin, 13 Desember 2010
KEMBALI BERTERIAK !!!
5 desember 2010//majalaya//nyukcruk galur budaya sunda
Jam 8 persiapan berangkat dari rumah rian menuju majalaya, tepatnya di jalan idris. Karena masih banyak yang harus dipersiapkan yang lainnya agung beserta edu berangkat terlebih dahulu untuk konfirmasi kepada panitia. Di jalan agung bertemu temannya dahulu karena akan memberikan karinding kepada temannya. Kami sampai pukul 9 lebih dan di susul oleh teman-teman yang lain. Sebenarnya kami bukan band pembuka pada acara tersebut, tepi di karenakan band yang lain belum kumpul seluruh anggotanya dan acara akan di mulai, dengan sangat terpaksa kami nabeuh terlebih dahulu sebagai pembuka acara tersebut dengan di awali oleh budaya sunda. Kami pun menerikan semua lagu-lagu kami dengan total 7 lagu. Rencananya setelah nabeuh kami akan segera pulang, tetapi karena kami mendapat kabar bahwa saudara kami markipat akan nabeuh juga pada acara ini kami pun menunggu mereka. Dan markipat ternyata menjadi band karinding yang menutup acara tersebut. Dan terpaksa kami mengikuti acara tersebut sampai akhir demi menyaksikan saudara kami nabeuh. SUNDA AING SUNDA SALAREA!!!
11 desember 2010//common room//manunggaling kawula gusti (karinding militan aka karmila)
11 desember 2010//common room//manunggaling kawula gusti (karinding militan aka karmila)
Acara manunggaling kawula gusti launcing video art dan bedah lirik yang di mulai pukul 3 ini ternyata terlaksana pukul 4. Hanya agung dan rian dari anggota babaung maung yang mengahadiri acara ini. Mereka mulai berangkat jam setengah 1 karena agung mendapat kabar yang salah tentang acara ini yang di mulai pukul setengah 1. Karenan jadwal yang masih lama agung beserta rian menghampiri kang teddy ‘galengan’ untuk sekedar silaturahmi di dago teahouse. Disana rian membeli kalung berbentuk karinding, dan agung menemukan karinding dari pelepah kawung (aren) dan tidak lama agung langsung membelinya. Sekitar jam 3 kami pamit untuk pergi ke common room. Jam 4 acara di buka mc dan langsung peperback reader yang melantunkan lagu the beattles dengan menggunakan celempung renteng, karinding, kohkol, dan gitar akustik. Lalu di lanjutkan dengan pemutaran video art karinding militan aka karmila – manunggaling kawula gusti. Performent art dari koloni hitam membuat semua tamu yang hadir terdiam. Kemudian gohgor dengan musik pengerusakan feat bersama yang punya hajat karmila merusak common room dengan musik mereka. Acara selanjutnya bedah lirik manunggaling kuwula gusti dengan pembicara kimung (karat), ady gembel (forgotten), akay (karmila), dan moderator agung jak (koloni hitam), break adzan magrib kemudian di lanjutkan dengan pembahasan yang tertunda tadi. Pembedahan lirik yang sangat mantap di lakukan oleh mereka, hanya orang-orang yang memiliki wawasan yang sangat luas mungkin yang dapat mengartikannya (mantap si akang-akang ieu da, bingung keneh saya ge). kemudian di lanjut karinding militan feat Kick It Out Hardcore, hardcore sundanese pisan. Lalu tigapagi yang memang sudah berkolaborasi dengan karmila ikut menampilkan penampilan terbaik mereka. Penutup acara dengan yang punya hajat kerinding militan aka karmila nabeuh dengan 3 lagu. Acara sederhana yang sangat menyejukan mangs, HANCA ! ! SUNDA NEPI MODAR ! !
backsound : tarawangsa, karinding attack, karinding militan, salarvati, frau, blending corps, harmony of tragedi, demi god, demons damn.
backsound : tarawangsa, karinding attack, karinding militan, salarvati, frau, blending corps, harmony of tragedi, demi god, demons damn.
books : -
movie : jumper
movie : jumper
quotes : alam tidak membutukan kita, kareana alam tanpa kita masih tetap bisa ada. Kita yang membutuhkan alam (kimung, bedah lirik manunggaling kawula gusti)
KARINDING KALAMANDA, KI SELENTING, DAN SEKAR SUNDA KOMARA TASIKMALAYA
Oleh Kimung
Tasikmalaya sering menyebut dirinya sebagai daerah pertama kali karinding dibuat. Ini diperkuat oleh kisah Jajaka Kalamanda sebagai pencipta karinding di Tasikmalaya. Dalam syairnya “Karinding ti Citamiang” penyair Nazaruddjin Azhar mengisahkan kembali cerita ayng dituturkan Oyon Noraharjo tentang Kalamanda. Nun dahulu kala, lembur Citamiang, Pasir Mukti, ada dalam kekuasaan Kerajaan Galuh. Di kampung ini tersebutlah seorang jejaka gagah bernama Kalamanda yang masih keturunan menak Galuh. Suatu waktu, Kalamanda bertemu seorang mojang jelita yang seketika itu membuatnya jatuh cinta. Gadis itu bernama Sekarwati.
Kalamanda mencari cara untuk mendekati Sekarwati, yang konon telah membuat patah hati ratusan pemuda yang berniat mendekatinya. Beragam aksi berbalut ketampanan dan materi tak mampu meluluhkan sang gadis, mulai dari aksi jawara, menak, hingga santri, tidak ada yang bisa meuluhkan hati si jelita.
Akhirnya Kalamanda bertapa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan. Setelah tirakat, akhirnya ia mendapat petunjuk untuk membuat sejenis alat musik yang suaranya mampu mencerminkan perasaan cintanya yang dalam bagi sang pujaan. Setelah membuat beragam alat musik, akhirnya ia menemukan alat yang mampu mewakili getar perasaannya kepada Sekarwati. Alat itu sangat sederhana, terbuat dari pelepah kawung (enau) kering.
Ketika hari beranjak malam, Kalamanda diam-diam mendekati jendela bilik Sekarwati dan memainkan alat itu sepenuh cinta. Suaranya yang datang dari hati berhasil menyentuh sanubari Sekarwati yang hampir terlelap tidur. Sekarwati pun terpesona dan menerima pinangan Kalamanda dan mereka pun hidup bahagia selamanya. Kalamanda menamai alat yang berhasil mencuri hati Sekarwati itu, karinding, karena bentuknya yang mirip dengan kakarindingan, sejenis binatang lucu yang biasa ada di sawah pada zaman dulu.
Karinding sebagai alat musik penawan hati wanita juga muncul dalam kisah Ki Slenting sang playboy. Kisah ini pernah dikisahkan Yoyo Dasriyo dalam artikel berjudul “Karinding Menggelinding, Mengiring Ki Selenting” (Kompas Jawa Barat, 4/7). Berbeda dengan kisah Kalamanda yang berakhir bahagia, kisah Ki Slentingan berakhir tragis. Alkisah, dengan permainan karinding yang memukau, Ki Slenting memikat banyak wanita. Karena moral yang bejat, Ki Slenting menjadikan para wanita itu sebagai pelampiasan nafsu bejat dan melakukan tindakan tidak senonoh yang mengakibatkan kemarahan warga. Akhir kisah, Ki Slenting mati dihakimi warga yang merasa marah para wanita mereka dinodai sang playboy.
Di Citamiang, Tasikmalaya, karinding terus dikembangkan oleh Oyon Naroharjo. Oyon mengenal karinding dari sang ayah sejak ia masih sangat kecil. Bersama kawan-kawan nya semasa Sekolah Rendah tahun 1940an Oyon memainkan karinding sebagai alat permainannya. Semakin lama, Oyon semakin serius memainkan alat ini. Tahun 1955, ia pernah memainkan karinding bersama grup keseniannya dalam pasanggiri seni antar Sekolah Rendah di Cikondang.
Sepuluh tahun kemudian, Oyon mendirikan grup karinding Sekar Komara Sunda. Grup inilah yang kemduians ecara serius tampil di berbagai acara seni dan budaya dalam kurun waktu tiga puluh tahun kemudian. Empat panggung terakhir yang diingat Oyon adalah panggung di Hotel Preanger tahun 2001, kolaborasi dengan grup kesenian Kabumi dari UPI pimpinan Gianjar Saribanon tahun 2002, panggung kolaborasi karinding dengan jimbe, digerindo, kendang, rebab, dan rain stick di Gedung Kesenian Tasikmalaya, serta panggung terakhir Sekar Komara Sunda di sebuah acara akbar di Lapangan Gasibu Bandung tanggal 3 Mei 2003. Setelah acara ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya menjanjikan akan menampilkan Sekar Komara Sunda di Taman Mini Indonesia Indah. Namun, entah mengapa janji ini tak juga terealisasikan. Yang menarik adalah hubungan awal Sekar Komara Sunda dengan Kabumi UPI yang sebenarnya sudah terjalin sejak 1999 ketika Kabumi datang ke Cineam untuk penelitian karinding. Hubungan inilah yang menghasilkan pendokumentasian kisah-kisah lisan tentang karinding terutama dari almarhum Oyon dan Bah Karna (Alm).
Walau kini sudah vakum, namun patut diakui jika Sekar Komara Sunda berhasil membentuk regenerasi pemain karinding dengan munculnya nama musisi karinding baru dari grup ini, yaitu Mang Sule. Sekar Komara Sunda juga mengungkapkan nilai-nilai edukasi dan harmonisasi dalam karinding. Alat musik dimainkan oleh beberapa orang, yang walau bermain dalam nada berbeda, namun tetap menjaga harmonisasi sehingga suara yang dihasilkan melaras. Harmonisasi dalam laras yang berbeda inilah inti dari kehidupan yang harus dijunjung tinggi.
artikel berasal dari :
http://jurnalkarat.wordpress.com/2010/07/04/karinding-menghajar-jalanan/
http://jurnalkarat.wordpress.com/2010/07/04/karinding-menghajar-jalanan/
dan bersumber dari :
Wawancara Sakasadana oleh Kimung
Wawancara Gembok Teuas Markipat Karinding oleh Kimung
Wawancara Abah Olot oleh Jaka, Fajar, dan Under Crew
Langganan:
Postingan (Atom)
